Puisitentang guru adalah penyampaian rasa hormat dan terima kasih berupa kata-kata yang indah. Di bawah ini adalah contoh puisi pendek tentang guru, seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa mereka belum tentu kita bisa menjadi seperti sekarang.
KBRN Surabaya : Bulan Ramadhan sudah terlewati 27 hari, bulan Al-Quran dimana bulan hampir di seluruh masjid dan mushola menyuarakan bacaan Al-Quran. Bulan Al-Quran karena pertama kali kitab suci umat Islam itu diturunkan dari
PengisiHatiku bila ku sedih. Ketika ibu menjemput ku kau selalu ikut untuk menjemputku juga. Bila kau sakit aku selalu khawatir. Ketika aku pergi kau selalu menggonggong seperti ingin ikut. Waktu aku membeli anjing baru kau merasa tersaingi. Akhirnya kau mogok makan karena aku lebih menyayangi anjing baru itu. Anjingku oh anjingku .
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Yuk belajar 6+ cerpen tentang guru tanpa tanda jasa Sesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang telah tiada ibu ke dua bagiku guru. Hal itu bisa kamu lihat dari pengalaman Louanne Johnson yang mengajar di Parkmount High School. Begitu kiranya semboyan yang relevan untuk kondisi guru dimasa kini. Lihat juga soaltentang dan cerpen tentang guru tanpa tanda jasa Cerpen Tentang Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Terlupakan Cerita seorang anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya semasa kecilsadara-saudaranya pun tak mau menampung dia. Memaksakan sinarnya tetap terpanc ar meski setitik ia merasa itu lebih berarti dari pada. Film Tentang Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Menjadikanmu Berilmu. Pahlawan tanpa tanda jasa. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Hari ini aku kembali file PDFUkuran file kertas soal LetterTanggal pembuatan soal September 2021 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 204 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda JasaSesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang telah tiada ibu ke dua bagiku dijadikan sebagai lagu untuk menjunjung tinggi martabat guru. 2 Januari 2015 jejakpakguru. Guru tidak pernah lelah untuk memberikan semua ilmunya yang kelak akan bermanfaat untukku di masa depan. Walaupun disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Ia hidup sebatang karasendiri tanpa arah dan tujuan yang pastisehari-harinya ia hanya bekerja sebagai pengamen jalanan untuk membeli makanan dan minuman. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Yang digugu dan ditiru. Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Sketsa Contoh Soal Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Sketsa Bahan toyobo rm Bahan thalita premium Bahan organdi polos Bahan tafeta itu seperti file DocxUkuran file kertas soal HVSTanggal pembuatan soal Februari 2019 Jumlah soal Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Sketsa 278 Halaman Lihat Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Sketsa Admin blog Seputaran Guru 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait cerpen tentang guru tanpa tanda jasa dibawah ini. Riak Pijar Guru Masih Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Rabu 27 November 2013 Contoh Soal Riak Pijar Guru Masih Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Rabu 27 November 2013 Guru BUKAN pahlawan tanpa tanda file JPGUkuran file kertas soal FolioTanggal pembuatan soal Maret 2021 Jumlah soal Riak Pijar Guru Masih Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Rabu 27 November 2013 203 Halaman Lihat Riak Pijar Guru Masih Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Rabu 27 November 2013 BUKAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tulisan Matdon Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tulisan Matdon Berikut yang dapat kami bagikan terkait cerpen tentang guru tanpa tanda file JPGUkuran file kertas soal HVSTanggal pembuatan soal November 2017 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tulisan Matdon 348 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tulisan Matdon Dimana semua siswa Indonesia akan memperingati hari guru. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Guru juga bertugas sebagai file DocxUkuran file kertas soal FolioTanggal pembuatan soal September 2021 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 189 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Lewat merekalah kamu bisa mendapatkan ilmu yang menjadikan dirimu sehebat sekarang. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Nilam masih ingin menanyakan tentang pahlawan kepada file JPEGUkuran file 6mbUkuran kertas soal A4Tanggal pembuatan soal Agustus 2018 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 238 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa GenK inget nggak kalau tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Cerpen Tentang Guru Contoh Soal Cerpen Tentang Guru Pahlawan tanpa tanda jasa Ku kayuh pedal sepeda bututku melewati jalan setapak file JPGUkuran file 800kbUkuran kertas soal FolioTanggal pembuatan soal April 2021 Jumlah soal Cerpen Tentang Guru 166 Halaman Lihat Cerpen Tentang Guru Kata orang Jawa Guru itu diguGU dipercaya dan ditiRU diikutiditeladani. Pena Sang Guru Kumpulan Cerpen Karya Guru Book Komunitas Guru Menulis Gramedia Digital View cerpen gurudoc from TEKNIK 1C at State University of Medan. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Guru Ku Motivasi Hidup file JPEGUkuran file kertas soal LetterTanggal pembuatan soal Juni 2019 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 179 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa CERPEN BUKAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA CERPEN HARI GURU CERPEN HARI PENDIDIKAN NASIONAL CERPEN. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jika aku melihat jasa para guru itu sangat berjasa sekali file JPGUkuran file kertas soal LetterTanggal pembuatan soal Desember 2021 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 337 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Contoh Soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Ia hidup sebatang karasendiri tanpa arah dan tujuan yang pastisehari-harinya ia hanya bekerja sebagai pengamen jalanan untuk membeli makanan dan file PNGUkuran file kertas soal HVSTanggal pembuatan soal Juni 2020 Jumlah soal Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 174 Halaman Lihat Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Hingga dijadikan sebagai lagu untuk menjunjung tinggi martabat guru. Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Seputaran Guru Contoh Soal Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Seputaran Guru Format file DocxUkuran file kertas soal HVSTanggal pembuatan soal Februari 2017 Jumlah soal Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Seputaran Guru 334 Halaman Lihat Cerpen Tentang Guru Tanpa Tanda Jasa Seputaran Guru Demikianlah Artikel mengenai cerpen tentang guru tanpa tanda jasa, Guru pahlawan tanpa tanda jasa tulisan matdon cerpen tentang guru 37 puisi guru singkat guruku tercinta pahlawan tanpa tanda jasa pena sang guru kumpulan cerpen karya guru book komunitas guru menulis gramedia digital guru pahlawan tanpa tanda jasa pena sang guru kumpulan cerpen karya guru book komunitas guru menulis gramedia digital guru pahlawan tanpa tanda jasa guru pahlawan tanpa tanda jasa, semoga mencerahkan.
“Puisi untukmu guru “ Embun Pagi nan sejuk mengalir diantara dedaunan dikala pagi menjelang. Sang surya mulai menampakan senyum nya. Rangkaian perbukitan yang menjulang tinggi, flora dan fauna yang masih sangat terjaga kemurniannya, sungguh anugrah yang indah dan mahakarya terhebat dari-NYA sang pencipta alam, Irian jaya, Indonesia ku. Dialah wati seorang wanita separuh baya yang terkenal dengan logat melayu nya. Ya, ia berasal dari Riau tepatnya di daerah inhil. Namun kini telah bekerja selama 1 tahun di negri cendrawasih itu tepatnya di daerah perbatasan terluar marauke. Sungguh pengorbanan yang mungkin tak terfikirkan oleh sebagian orang untuk mengabdikan dirinya di daerah yang sangat sulit dijangkau untuk ukuran jarak Sumatera-irian jaya, dari ujung ke ujung. Namun hal itu tak menghentikan niat wati untuk dapat mengajar di daerah tersebut. Terinspirasi dari kondisi social masyarakat yang sedikit tidak mengiris hati untuk menyaksikan kemiskinan, pendidikan yang bisa dikatakan sangat menyedihkan, tak terlepas dari social control yang tak lagi terkontrol, perang antar suku yang mecuat terjadi dimana-mana tanpa mengenal waktu dan tempat bagaikan tiada lagi arti persaudaraan. Bagaimana dengan anak-anak disana yang menerima nasib hidup di daerah demikian? bagaimana pendidikan nya yang berujung pada masa depan yang tak jelas kemana arahnya?. Mereka juga anak Indonesia sama seperti mereka-mereka yang ada di Riau, Jakarta, Yogya, Bali dan wilayah Indonesia lain nya. Mereka juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak seperti anak-anak Indonesia di belahan pulau lain nya. Sungguh ironis jika negeri yang kaya raya ini tidak mampu memeratakan pendidikan yang layak sebagaimana mestinya. Batin nya tersentak dengan kondisi demikan . Beberapa serentetan pertanyaan itulah yang menggerakkan dan menggugah hati wati untuk tidak mengatakan “saya tidak peduli”. Dan kini ia telah mendapatkan satu tempat disana sebagai tenaga pengajar di daerah tersebut. Mengajar, mendidik dan terus berdikari buat mereka generasi-generasi kecil penerus bangsa kelak. Ya, wati disana wati bekerja sebgai seorang guru Sekolah Dasar terpadu di salah satu desa di kabupaten tersebut yang muridnya bisa dibilang dengan hitungan jari saja. Tiadalah mengapa bagi seorang wati, baginya, bukankan untuk melakukan suatu perubahan mesti dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Tak peduli dengan gencar-gencar nya perselisihan, gencatan perkelahian antar suku yang sengit nya acap kali mengurangi niat seseorang untuk berkunjung di daerah itu, tapi Wati, tetap kuat dengan pendirian nya yang kokoh untuk tetap menjunjung tinggi amanah sebagai tenaga pengajar dan pendidik. Saban hari tanpa mengenal lelah ia beranjak melewati bukit, sungai dan terjalnya jalan yang menghiasi kawasan tersebut. Sejak matahari terbit hingga terbenam kembali. Tiada kata keluh apa lagi putus asa meskipun hidup disana merupakan sebuah tantangan lahir maupun batin nya. Mengajar dengan bayaran yang bisa dikatakan rendah tak mengurung niatnya atas kepedulian terhadap kondisi pendidikan disana. Tidaklah mengapa bagi seorang wati mendapatkan bayaran kecil, karena itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Baginya melihat anak-anak memperoleh pendidikan yang layak jauh lebih membahagiakan ketimbang memperoleh bayaran yang besar tanpa bisa melihat dan mendengar suara hati, harapan anak-anak bangsa disana. Di ruang kelas yang berukuran lima kali lima meter, tempat dimana wati menyalurkan ilmunya, mengajar dan mendiidk murid-murid nya dengan kondisi demikian sederhana. Anak-anak tanpa alas kaki, baju yang bisa dikatakan tak lagi layak pakai, buku-buku seadanya tampak begitu nyata yang menimbulkan kesan iba bagi yang melihat nya. Namun wati tak melihat surut nya perjuangan anak-anak tersebut untuk memperoleh pendidikan. Dengan kata-kata sederhana namun penuh kasih sayang wati mengajar dan mendidik murid-muridnya. “Ayo, anak-anak...siapa yang tau hari ini hari apa ? Suasana tersentak hening berfikir. Lalu salah satu murid menjawab dengan penuh semangat. “saya bu, hari ini hari guru.. “ “Ya, benar sekali amin. Jadi hari ini adalah hari guru. Nah, ibu mau nanya lagi. Siapa diantara kalian yang mau jadi guru ? “. Wati kembali bertanya.. Seketika itu beberapa murid mengacungkan tangannya, mengisyaratkan bahwa mereka berkeinginan menjadi seorang guru dan beberapa murid lain juga mengutarakan cita-cita nya yang beaneka ragam. “Ya, anak-anak ibu semua adalah anak yang hebat. Punya cita-cita. Kalian harus kejar cita-cita kalian..untuk menggapai apa yang kalian inginkan”. wati menundukan lalu sedikit berpaling dengan mata yang berkaca-kaca. Wati merasa begitu bahagia melihat antusias para murid-muridnya yang begitu bersemangat. Wati terharu atas keinginan besar mereka. Mereka punya cita-cita, mereka punya masa depan sama seperti anak-anak lainya, tinggal bagaimana cara kita seorang guru untuk membantu membimbing mereka menuju puncak harapan tersebut. Salah satu murid berdiri dengan tiba-tiba.. “ Puisi untuk mu guruku “ Bagai embun yang sejuk kau basahi diriku dengan tulusnya didikan mu Bagai pelita kau terangi aku dalam gelapnya pengetahuanku Hingga ku lihat jendela terang yang bersinar memantulkan cahaya abadinya ilmu mu, Aku bersyukur karena Ia telah ciptakan engkau bagi kami murid-murid mu Tanpa lelah kau bimbing, ajar dan didik kami hingga kami mengenal huruf, angka bahkan dunia, engkau adalah cahaya kami.. Tetaplah menjadi pembimbing kami, Dalam kesuraman, kehampaan, kehausan akan ilmu pengetahuan dan pendidikan Hingga akhirnya kami mencapai puncak yang begitu tinggi, cita-citaku Terima kasih guru, engkau adalah pahlawan kami, pahlawan tanpa tanda jasa. “Selamat hari guru…” sontak seluruh murid berdiri dan berteriak dengan ceria. Wati tersentak melihat murid tersebut yang secara tiba-tiba membacakan puisi buatnya. Sekali lagi mata wati berkaca-kaca mendengar puisi dari salah satu murid di kelas tersebut. Itu adalah puisi terindah yang pernah ia dengar. Ia begitu terharu, bahwa sebegitu indahkah posisinya sebagai seorang guru dimata murid-murid nya. Ya, bahkan lebih indah dan mulia jika semua itu dilakukan oleh seluruh guru dengan penuh amanah dan keikhlasan. Teruntuk semua guru yang telah mengajar, mendidik dan membimbing ku dengan penuh pengorbanan dan keikhlasan J .
– Asap mengepul dari cerutu, berbaur dengan udara segar di teras rumah. Sambil ditemani seduhan kopi Manggarai yang nikmat, aku mengobrol sejenak dengan pikiranku; mencoba menggali ide yang bakal dituangkan dalam novelku yang keenam. Gampang-gampang susah. Apalagi tema yang ingin kuangkat kali ini adalah “Guruku, Pahlawanku”. Gampang, karena guruku memang pahlawanku. Tanpa dia aku mungkin akan menghabiskan hari-hari di bawah kolong jembatan bersama tikus-tikus got kotor yang katanya mirip dengan diriku tempo dulu. Ayah suara mungil yang biasa memecah keheningan menyapa dari kejauhan. Anakku, Karlos, baru pulang dari sekolah. Sebelum sapaan itu dilanjutkan, aku sudah tahu, setelahnya pasti akan ada topik tentang guru Agama di sekolahnya. Adalah Pak Tarno, guru Agama yang terkenal satu sekolah karena sifat humoris dan keakrabannya dengan siswa. Setiap siswa pasti suka dengannya, bukan saja karena humoris tetapi karena tidak ada prasasti tangannya di pipi para murid. Pak Tarno tidak suka kekerasan. Pokoknya jabatan killer sangat jauh darinya. Kalau dia sampai menampar, berarti kenakalan siswa tersebut sudah kebablasan. Wajar bila sifat Tarno demikian. Kepribadian itu diturunkan dari ayahnya. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Pak Budi, ayah Tarno, adalah guruku saat SMA dulu. Orangnya tinggi, tegap. Badannya kekar. Kulit hitam dan janggut keriting yang dilepas tumbuh lebat di dagu membuat siapa saja yang bertemu dengannya pasti akan gentar dan gemetar. Banyak yang mengira dirinya adalah teroris. Akan tetapi bak langit dan bumi, kepribadiannya bertolak belakang dengan perawakannya. Dia adalah salah seorang guru yang paling disukai para murid. Bukan sekadar karena dia humoris, tetapi karena sikapnya yang lemah lembut. Semua siswa tahu, kalau didapati Pak Budi membolos sekolah, paling-paling akan disuruh menimba air untuk mengisi bak wc sekolah. Tak pernah ada kabar dia memukul murid. Bahkan kabar burung sekalipun! Seperti anak lain, aku juga menyukai Pak Budi yang lemah lembut itu. Namun sebenarnya aku meremehkannya. Meski waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA, tetapi bibit-bibit nakal sudah ada dalam diriku. Kata orang diturunkan dari ayahku. Siapa tidak kenal dengan Markus. Itulah diriku. Ketika ada siswa bermasalah, pasti namaku selalu berada pada urutan pertama. Cukup dengan mereka mengeja suku kata depan namaku saja Mar, orang sudah tahu kalau itu adalah diriku. Semua tinggal menyambung Kus. Maka terbentuklah Markus. Markus ya, jangan ganti Mar itu dengan ti”, meski jujur kuakui aku memang mirip tikus; kecil, kumal, juga lincah. Meski terkenal nakal, aku tetap punya jadwal. Jadwal kapan harus nakal, dan kapan harus bersikap munafik. Aku hanya berani membolos atau melakukan hal-hal aneh lainnya saat Pak Budilah yang bertugas piket. Di luar itu, aku juga berani sih, tetapi agak sedikit berhati-hati. Nyaliku tidak seteguh kalau Pak Budi yang bertugas. Aku memegang teguh prinsip “strategi itu penting untuk mencapai kesuksesan.” Pertimbangan tentang konsekuensi yang paling ringan hanya diperoleh kalau Pak Budi yang bertugas. Paling-paling kalau kedapatan aku cuma disuruh menimba air. Lama kelamaan aku keenakkan dengan perlakuan ini. Perlahan tapi pasti profesionalitasku sebagai pembolos semakin terasah. Roster bolos mulai dilanggar. Hampir setiap hari aku terus membolos. Bukan hanya Pak Budi yang kini kupandang sebelah mata, semua guru tidak masuk dalam daftarku sekarang. Prestasiku kemudian menurun. Padahal waktu duduk di kelas satu aku adalah juara kelas. Tapi ya sudahlah, menanggalkan nama sebagai juara kelas tidak berpengaruh apa-apa terhadap ketenaranku. Toh namaku masih dikenal di mana-mana, meski dengan predikat berbeda Markus si tukang bolos. Predikat itu sepertinya akan melegenda di sekolahku. Mungkin akan ada sebuah tugu dengan prasasti khusus yang dibuat untukku; Pahlawan dan teladan para pembolos. Harapan itu hampir terwujud sampai suatu saat Pak Jony mulai mengajar di tahun terakhirku bersekolah. Perawakannya biasa saja. Dengan tinggi pas-pasan, kaca mata klasik mirip milik Bung Hatta, kulit putih bersih, wajah tampan seperti artis korea dan rambut yang disisir belah tengah membuat siapapun tidak akan menduga kalau dia adalah atlet nasional beladiri Judo! Pak Jony kemudian diangkat menjadi kaur kesiswaan. Kami semua senang. Pandangan pertama membuat kami berkesimpulan orangnya pasti tak suka main tangan. Tidak mudah main tangan. Banyak geng sekolah yang merayakan perisitiwa itu. Termasuk diriku. Aku yakin nama Markus akan semakin fenomenal. Prediksiku memang tepat. Bulan-bulan pertama, sekolah serasa tempat berpiknik. Angka membolos semakin tinggi. Aku juga termasuk orang yang membuat grafik itu naik. Kedapatan? Sering, bahkan selalu. Tapi biarlah kupikir, semakin sering namaku disebut, elektabilitasku juga akan semakin naik. Bangga. Prok..prak..prok..prak. Meja di ruangan kaur kesiswaan terjungkir balik. Semua orang langsung mengerumuni ruangan. Kegaduhan itu bukan karena ada pencuri yang terciduk seperti dikira orang, melainkan anggota gengku yang baru saja merasakan keganasan Pak Jony. Dia lepas kendali karena kami terus ngeyel ketika ditanya tentang alasan membolos…lagi. Kemarahannya tak tertahankan karena tidak satupun di antara kami berempat yang menaruh respek padanya. Bahkan Deri, wakil gengku, menjawab pertanyaan Pak Jony dengan asap rokok yang masih mengepul dan kaki yang direntangkan di atas meja meja. Dalam sekali libas kami berempat tumbang. Darah bergelayutan di janggut tipisku. Tidak ada perlawanan. Siapa mau ambil resiko? Melawan berarti sedang melakukan testing mayat. Tendangan Pak Johny saat itu serasa petir di siang bolong. Sakitnya lebih parah ketimbang tertusuk kawat duri pagar sekolah. Kami tidak pernah mengalami yang seperti itu. Walau sering bolos, kami tidak pernah terlibat tawuran. Tendangan itu sekaligus membuat bakal tugu dan prasastiku berubah tema; Pahlawan dan Motivator bagi Pembangkang yang mau bertobat. Asap masih mengepul dari cerutuku yang sudah mulai menipis. Kopi menyisakan ampas. Satu jam telah berlalu. Mengenang masa lalu memang selalu punya kenikmatan tersendiri. Setelah peristiwa kekerasan atas nama cinta itu aku langsung bertobat. Aku bersyukur menerima tendangan itu, karena jika tidak aku tidak mungkin menjadi penulis sukses seperti sekarang ini. Hanya saja karena peristiwa itu, Pak Jony harus dipenjara karena melanggar UU Perlindungan Anak. Tidak peduli dengan motif dan dampak tindakannya, kekerasan tidak punya tempat di sekolah. Kasihan Pak Jony, dia memang pahlawanku, tapi tidak bagi negeri ini. Dia dianggap penjahat, karena melakukan tindak kekerasan. Sebenarnya kupikir, terkadang untuk orang-orang sepertiku yang tingkat membangkangnya sudah kelewat batas, perlu diberi shock terapy. Namun entahlah, itu urusan pemerintah, mereka tahu mana yang terbaik. Ayah hari ini Pak Tarno menamparku, karena kedapatan membolos lagi. Pipiku masih terasa sakit hingga sekarang Karlos melapor sambil meringis kesakitan. “Apa? Kurang ajar. Guru biadab, ayo ikut ayah, kita lapor polisi. Penulis Guru di SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur-Flores-NTT
cerpen tentang guru tanpa tanda jasa